BREAKING NEWS

23 November 2012

Gaza, Konflik yang Dipelihara?


Gaza, bagian dari Palestina didera hujan missil dari Israel selama kurun waktu 9 hari terhitung 14 - 22 Nopember 2012. Agresi Israel kembali terulang setelah terakhir kali terjadi pada akhir 2008 hingga awal 2009.

Akhir drama agresi kali ini ditandai dengan penghentian serangan pihak Israel dan Hamas yang diprakarsai Mesir. Gencatan senjata terjadi memang tidak berdiri sendiri dan bukan tanpa faktor-faktor lain.

Terhitung kehadiran Hillary Clinton yang bertemu Benjamin Netanyahu sebagai bagian dari upaya mendamaikan kedua belah pihak. Kunjungan Hillary atas instruksi Obama setelah berkunjung ke Bangkok, Thailand untuk mencegah kekerasan berlanjut.

Atas dasar inilah, sebagian pihak menyatakan bahwa gencatan senjata terjadi setelah Israel mendapat jaminan bantuan dari Amerika sebesar 70 juta dolar untuk Iron Dome. Kebijakan Amerika ini bukan tanpa alasan mengingat Israel merupakan sekutu terdekat dan juga perwakilan Amerika di Timur Tengah.

Perang sesaat yang terjadi antara HAMAS dan Israel hanya menimbulkan korban jiwa di kalangan sipil terutama anak-anak. Tak ada alasan mendasar buat kedua belah pihak untuk saling menggempur satu sama lain, kecuali satu hal, Israel mempertahankan eksistensi dengan egonya, HAMAS sekadar semampunya membela rakyat Gaza.

HAMAS hanya melindungi warga Gaza yang mana negara tak mampu memberikannya saat wilayah mereka sedikit demi sedikit tergerus oleh Israel. Patut dicatat bahwa sebelum gencatan senjata terjadi, pihak resmi Israel mau menghentikan serangan jika dipasang batas sejauh 500 meter yang masuk ke wilayah Gaza. Itu artinya, wilayah Gaza akan menyempit sejauh radius 500 meter. Parahnya, ini cara kasar Israel yang secara perlahan mencaplok wilayah Palestina.

Konflik Sejarah

Konflik Palestina sudah berlangsung puluhan abad, negara kota yang menjadi tempat bernaungnya sejarah 3 (tiga) agama besar dunia, Yahudi, Kristen, dan Islam. Di abad pertengahan, Perang Salib yang terjadi antara Islam dan Kristen memperebutkan Yerussalem terjadi selama ratusan tahun dengan pergantian penguasa yang silih berganti.

Hingga Salahudin Al-Ayyubi dari dinasti Fathimiyyah, Mesir berhasil gemilang menyatukan Muslim dan Kristiani dalam kekuasaan muslim yang damai yang menjadikan mereka sebagai sebuah keluarga besar, bangsa Palestina.

Lantas, sejak perang dunia kedua setelah pembantaian Yahudi oleh Nazi, dengan gerakan Zionisnya, mereka eksodus berusaha kembali ke Palestina sebagai "tanah yang dijanjikan" oleh Tuhan kepada mereka. Eksodus mereka tak lepas dari bantuan Inggris yang memang memiliki wilayah jajahan terbesar dan memiliki hutang pada para pembesar Yahudi. Di sinilah konflik Timur Tengah abad modern bermula yang kemudian terjadi dan berlangsung hingga sekarang. Situasi aman damai warga Muslim dan Kristen terusik oleh kehadiran Zionis Yahudi yang merasa superior tersebut dengan kekerasan demi kekerasan menggerus, mengambil, merampas tanah Bangsa Palestina.

Benar bahwa proses sejarah tak sesederhana itu, tapi sejarah puluhan abad tak mungkin untuk diurai hanya dalam sekelumit kata. Kesimpulan sederhana boleh jadi salah, fakta sejarah yang diterima pun boleh jadi tak komprehensif dan mungkin juga sepihak. Akan tetapi, sekadar untuk menyederhanakan pemahaman pribadi penulis akan situasi konflik yang menyejarah ini.

Rawan Kepentingan

Konflik Gaza, satu wilayah dari dua wilayah Palestina yang tersisa, menjadi sangat rawan kepentingan yang bagi penulis tak lagi murni konflik agama seperti awal mula.

Konflik wilayah itu yang paling mendasar, klaim sepihak Zionis atas dasar teks suci mereka menjadi awal masalah. Baik Kristen dan Islam tak bisa menerima klaim tersebut. Di Tepi Barat, yang umat Kristiani jumlahnya sangat signifikan memberikan dukungan penuh untuk Gaza dalam melawan agresi Israel. Konflik Gaza tak lagi murni soal agama, tapi lebih karena faktor lain.

Palestina yang sudah mendapatkan pengakuan sebagai sebuah entitas oleh UNESCO membuat gerah Israel. Upaya diplomasi non-politik dan kekerasan perang melalui jalur olahraga dan pendidikan menemui jalan terang. Bahkan Uni Eropa pun mengakui keberadaan Palestina dalam event-event olahraga.

Pengakuan beberapa negara dan badan dunia akan menjadi preseden buruk bagi Israel. Penolakan HAMAS atas pemilu Palestina yang dimenangkan FATTAH menjadi pintu masuk Israel untuk melakukan agresi. Ketidakpuasan HAMAS dimanfaatkan untuk memulai peperangan.

Dengan sedikit letupan konflik di perbatasan, HAMAS tersulut dengan melancarkan serangan rudalnya secara sporadis, dibalas dengan serangan pula, tapi terarah dan dengan sasaran yang tepat pula. Bukan perang yang seimbang. Segala keterbatasan HAMAS bukanlah tandingan Israel.

Serangan Israel pada dasarnya sekadar warning buat negara-negara sekitarnya. Israel sedang unjuk kekuatan militernya. Bisnis dan pengembangan senjata menjadi salah satu target lain yang tak terbaca publik. Tapi memang, selalu ada sayap makna di setiap peristiwa, sayap tujuan lain di setiap aksi.

Apapun itu semua, rakyat biasa yang menjadi korbannya. Dan, publik dunia lagi-lagi dibuat terperangah, terkejut, terhentak dibuat kacau emosinya, karena lagi-lagi yang mengemuka adalah isu agama dan isu kemanusiaan.

Semoga konflik Timur Tengah yang berpusat di Palestina segera berakhir dengan diakuinya kedaulatan Palestina sebagai sebuah negara.

Amin.

Share this:

3 komentar :

  1. mending pelihara kambing ya pak, kalo sudah gemuk bisa dijadikan sate. lha ini malah pelihara konflik :)

    BalasHapus
  2. @budiono: bagi orang macam kita ya mending piara kambing ketimbang piara konflik, mas. :D

    BalasHapus
  3. kasian sekali orang orang yang tidak berdosa itu meninggal tanpa tau apa maslah yang sebenernya
    masya alloh

    BalasHapus

 
Copyright © 2014 Gempur Abdul Ghofur. Designed by OddThemes